Di beberapa forum dunia maya, di jalanan, di televisi, banyak sudah saya mendengar perjuangan2 yg mengatasnamakan agama. Gak cuma agama, bahkan ada yang perang dengan saudara sebangsanya untuk daerahnya, bahkan suku. Atmosfer perang terbuka dan perang dingin sudah terasa kental di negeri ini. Tidak ada lagi yg berteriak: Hidup Indonesia! Merdeka! dan sebagainya. Bahkan ada yang mw mengganti Pancasila karena dianggap gak mampu menjadi dasar negara kita.
Oh Indonesiaku. Liat nih bangsamu sekarang. Pecah2 gak keruan. Tanah2 saksi bisu perjuangan pahlawan2 kita di masa lalu, kini hanya bisa menangis. Gunung2 persembunyian gerilyawan Indonesia dahulu pun ikut menangis. Tidak ada lagi Indonesia yang dulu. Indonesia sekarang gak lebih dari sekadar status kewarganegaraan. Tempat warganya mencaci maki, betapa bobroknya Indonesia, sementara kita gak ngelakuin sesuatu yg berarti utk bangsa ini. Ujung2nya partai. Ujung2nya agama. Ujung2nya jabatan.
Kedua kakekku (sudah tiada), dulunya pejuang. Gak sekadar pejuang, tetapi pemimpin gerakan. Kemana2 diburu. Jarang ada di rumah untuk keluarga. Beliau berjuang sampai akhir hayatnya untuk Indonesia. Paman saya, meninggal bentrok dengan PKI. Apakah kita bisa rasakan getaran itu? Semangat untuk berjuang demi negeri ini. Semangat untuk bersatu. Bahwa kita adalah saudara. Saudara!
Saya masih ingat ketika kejadian bom bali I dan II. Di media2 tertulis, bali menangis. Kenapa bukan Indonesia menangis? Saya tidak habis pikir. Apakah orang bali bukan saudara orang Indonesia lagi? Bali kan juga Indonesia? Kerabat saya salah satu korban bom laknat itu. Sakit. Cara mati yang menyedihkan. Dia pantas untuk kematian yang lebih manusiawi. Sangat pantas.
Kemudian sebuah negara nun jauh di sana dilanda perang. Banyak korban berjatuhan. Kaget, saya melihat Indonesia ikut menangis. Menangisi saudara. Ahhh, kepala saya tertunduk. Dada saya berdegup kencang. Kenapa saudara yang benar2 serumpun se-nenek moyang tidak dianggap saudara? Tidak ikut menangis ketika tertimpa bencana? Kenapa malah orang yang jauuuuh disana dianggap saudara?
Tampaknya kata “saudara” di sini sudah berubah arti. Tidak ada nafas nasionalisme di dalamnya. Tidak lagi. Kapan “Hidup Indonesia” akan diucapkan lagi? Kapan kita bisa bersatu lagi?
Recent Comments